Sabtu, 22 September 2018

AUTOBIOGRAFI


Nama saya Rifka Annisa Azmi, biasa dipanggil Rifka. Ayah saya bernama Tobasir dan Ibu saya bernama Kurnia Tuti Ningsih. Saya adalah anak tunggal dari keluarga ini. Saya lahir di sebuah kampung kecil yang bernama Kaligangsa Kulon  pada tanggal 25 Agustus 1997, dan saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya disana tepatnya di Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ayah saya hanyalah seorang Guru SMP dan sampai sekarang masih melakukan pekerjaan tersebut sedangkan ibu saya seorang Guru SD. Namun, walaupun saya hidup dengan sederhana tapi saya hidup dengan  kebahagiaan. Kedua orang tua saya mendidik saya dengan baik .
            Keluarga kami termasuk keluarga yang lumayan taat beribadah, dari kecil saya sudah diajarkan ibu untuk selalu melaksanakan sholat lima waktu. Waktu kecil dan sampai sekarang setiap azan datang, ibu selalu cerewet menyuruh saya segera melaksanakan sholat karena ibu mengatakan jika melalaikan sholat berarti kita merunuth tiang agama Islam dan termasuk kedalam golongan orang-orang kafir. Ketika usia saya memasuki 5 tahun orang tua saya membawa saya kesekolah TK agar saya bisa belajar. 
            Sekitar usia saya menginjak 6 tahun saya menduduki bangku SD. Saat itu saya bersekolah di SDN Banjaranyar 04. Akhirnya pada tahun 2010 saya lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun tersebut. Saya memilih melanjutkan pendidikan ke MTsN Model Brebes yang masih berada di daerah Kecamatan Brebes. Pada hari pertama saya masuk, saya sangat canggung dikarenakan jumlah siswa yang lebih banyak dari jumlah siswa waktu saya sekolah dasar tentunya memiliki karakter dan tingkah laku yang beragam dan tidak semua orang baik disana. Berbagai macam karakter orang yang telah saya temui. Seperti pemerasan, pemaksaan, dan perokok. Pada umumnya mereka berangkat kesekolah menggunakan motor milik orang tuanya, ada juga yang menggunakan sepeda seperti saya sendiri, dan berjalan kaki.. Pulang sekolah saya bersama selalu bersama teman saya yang bernama Fany.
            Pada tahun 2012, alhamdulillah saya lulus dari MTsN Model Brebes dan mengambil jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya memilih untuk merantau ke daerah ibu kota Jawa Tengah yaitu Kota Semarang menimba ilmu di suatu pondok pesantren yang bernama Roudlotul Quran dan bersekolah umum di MA NU Nurul Huda Kota Semarang. Alasan saya kenapa memilih sekolah di sana karena memang dari dulu saya ingin menimba ilmu di suatu Pondok Pesantren.
Hari pertama saya di Semarang, jujur saya tidak faham dengan bahasa jawa yang mereka pakai. Karena bahasa meraka sangat berbeda dengan bahasa yang saya pakai. Mereka menggunakan bahasa jawa wetanan, sedangkan saya yang berasal dari Brebes mengunakan bahasa ngapak. Jadi, hari pertama saya masih diam dan sangan pemalu jarang untuk berbicara. Sekali berbicara saya menggunakan Bahasa Indonesia dengan logat ngapak. Perlahan saya dapat menyesuaikan dengan bahasa mereka.
Pada tanggal 12 April 2015 di kelas tiga MA saya melaksanakan ujian nasional (UN). Saya ketakutan menghadapi ujian ini, karena ini merupakan ujian yang menentukan masa depan saya. Oleh Karen itu, seminggu sebelum UN dilaksanakan saya benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh. Karena saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya yang telah bersusah payah menyekolahkan saya sampai sekarang dengan ikhlas tanpa mengharapkan belas kasihan apapun dari anaknya. Yang selalu menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu saya harus memberika yang terbaik untuk mereka terutama pada ibu yang telah mengandung saya selama 9 bulan dengan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya. Yang telah menyusui dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang yang mana sampai saat ini saya tidak akan bisa membalas semua itu. Tapi saya akan lakukan yang terbaik untuk membalas semua jasa yang telah diberikan kepada saya dan saya anggap jasa yang telah diberikan selama ini kepada saya merupakan hutang yang harus saya lunasi kepadanya.
Pada tanggal 2 mei 2015 yang mana pada hari itu kelulusan saya diumumkan lewat sebuah amplop dari sekolah sebelum saya menerima amplop tersebut saya berdo’a di dalam hati agar diberi kelulusan dengan nilai yang sesuai kemampuan saya. Saya merasa takut, cemas namun saya penasaran untuk membukanya jantung saya mulai berdebaar kencang. Melihat teman-teman sekolah sudah membuka amplopnya semuanya bergembira, tapi ada beberapa teman angkatan pula yang harus menerima kenyataan pahit serta kekecewaan. Hal itu membuat saya semakin ketakutan. Lalu ketika saya menerima amplop tersebut dari wali kelas jantung saya semakin kencang berdebar, perlahan saya membukanya dengan membaca bismillah dan berdo’a kepada Allah sambil berharap diluluskan. Setelah mengetahui isi amplop tersebut, alhamdulillah akhirnya semua perasaan itu lega, utang saya kepada ibu sedikit demi sedikit berkurang karena saya lulus ujian nasional. Saya sangat bersyukur karena Allah SWT telah menjawab do’a saya, tidak sabar saya ingin membagi kebahagiaan ini kepada orang tua saya. Saya segera pulang menemui orang tua dan memberi tahunya bahwa saya lulus dan itu membuat orang tua saya terharu.
Saya sangat ingin sekali melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Sewaktu MA saya mengikuti program SNMPTN saya mendaftarkan diri di Universitas Negeri Semarang. Namun Allah belum berkehendak, saya sempat putus asa. Setelah SNMPTN berlalu, ada lagi program SBMPTN yang saya ikuti. Saya berusaha dan berdo’a agar saya bisa diterima di universitas negeri. Tapi tetap Allah belum berkehendak. Akhirnya saya mengikuti Ujian Mandiri di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya terus berusaha dan berdo’a dan Allah pun mengabulkan do’a saya. Saya lulus di jurusan tersebut. Saya sangat bersyukur atas semua karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Saya tidak akan mampu melakukannya sendirian tanpa dukungan kedua orang tua saya, dan teman-teman yang selalu memberi semangat saya untuk terus berusaha.
Saya diberi kesempatan untuk tinggal di Pondok Pesantren yang tidak jauh dari kampus. Di kampus saya mempunyai banyak teman yang bisa berbagi satu sama lainnya. Berbagai macam tingkah laku dari teman-teman saya disini. Ada yang lucu, ada yang cerewet, dan lain sebagainya. Meskipun kami berasal dari beragam daerah, tapi kami tetap satu jua. Harapan saya semoga saya bisa mendapatkan nilai yang sangat memuaskan tentunya. Semua itu tidak akan terkabul tanpa DUIT (Do’a, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal). Saya akan terus berusaha demi sebuah kesuksessan saya dari sekarang dan untuk masa depan yang akan datang.