Nama saya Rifka Annisa Azmi, biasa dipanggil
Rifka. Ayah saya bernama Tobasir dan Ibu saya bernama Kurnia Tuti Ningsih. Saya
adalah anak tunggal dari keluarga ini. Saya lahir di sebuah kampung kecil yang
bernama Kaligangsa Kulon pada tanggal 25
Agustus 1997, dan saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya disana tepatnya di
Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Saya dilahirkan dari keluarga
yang sederhana, ayah saya hanyalah seorang Guru SMP dan sampai sekarang masih
melakukan pekerjaan tersebut sedangkan ibu saya seorang Guru SD. Namun,
walaupun saya hidup dengan sederhana tapi saya hidup dengan kebahagiaan. Kedua orang tua saya mendidik
saya dengan baik .
Keluarga
kami termasuk keluarga yang lumayan taat beribadah, dari kecil saya sudah
diajarkan ibu untuk selalu melaksanakan sholat lima waktu. Waktu kecil dan sampai
sekarang setiap azan datang, ibu selalu cerewet menyuruh saya segera
melaksanakan sholat karena ibu mengatakan jika melalaikan sholat berarti kita
merunuth tiang agama Islam dan termasuk kedalam golongan orang-orang kafir.
Ketika usia saya memasuki 5 tahun orang tua saya membawa saya kesekolah TK agar
saya bisa belajar.
Sekitar
usia saya menginjak 6 tahun saya menduduki bangku SD. Saat itu saya bersekolah
di SDN Banjaranyar 04. Akhirnya pada tahun 2010 saya lulus sekolah dasar dan
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun tersebut. Saya memilih
melanjutkan pendidikan ke MTsN Model Brebes yang masih berada di daerah
Kecamatan Brebes. Pada hari pertama saya masuk, saya sangat canggung
dikarenakan jumlah siswa yang lebih banyak dari jumlah siswa waktu saya sekolah
dasar tentunya memiliki karakter dan tingkah laku yang beragam dan tidak semua
orang baik disana. Berbagai macam karakter orang yang telah saya temui. Seperti
pemerasan, pemaksaan, dan perokok. Pada umumnya mereka berangkat kesekolah
menggunakan motor milik orang tuanya, ada juga yang menggunakan sepeda seperti
saya sendiri, dan berjalan kaki.. Pulang sekolah saya bersama selalu bersama
teman saya yang bernama Fany.
Pada
tahun 2012, alhamdulillah saya lulus dari MTsN Model Brebes dan mengambil
jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya memilih untuk merantau ke daerah ibu kota
Jawa Tengah yaitu Kota Semarang menimba ilmu di suatu pondok pesantren yang
bernama Roudlotul Quran dan bersekolah umum di MA NU Nurul Huda Kota Semarang.
Alasan saya kenapa memilih sekolah di sana karena memang dari dulu saya ingin
menimba ilmu di suatu Pondok Pesantren.
Hari pertama saya di Semarang, jujur saya tidak
faham dengan bahasa jawa yang mereka pakai. Karena bahasa meraka sangat berbeda
dengan bahasa yang saya pakai. Mereka menggunakan bahasa jawa wetanan,
sedangkan saya yang berasal dari Brebes mengunakan bahasa ngapak. Jadi, hari
pertama saya masih diam dan sangan pemalu jarang untuk berbicara. Sekali
berbicara saya menggunakan Bahasa Indonesia dengan logat ngapak. Perlahan saya
dapat menyesuaikan dengan bahasa mereka.
Pada tanggal 12 April 2015 di kelas tiga MA
saya melaksanakan ujian nasional (UN). Saya ketakutan menghadapi ujian ini,
karena ini merupakan ujian yang menentukan masa depan saya. Oleh Karen itu,
seminggu sebelum UN dilaksanakan saya benar-benar belajar dengan
sungguh-sungguh. Karena saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya yang
telah bersusah payah menyekolahkan saya sampai sekarang dengan ikhlas tanpa
mengharapkan belas kasihan apapun dari anaknya. Yang selalu menyayangi dan
memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu saya harus memberika yang
terbaik untuk mereka terutama pada ibu yang telah mengandung saya selama 9
bulan dengan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya. Yang telah
menyusui dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang yang mana sampai saat
ini saya tidak akan bisa membalas semua itu. Tapi saya akan lakukan yang
terbaik untuk membalas semua jasa yang telah diberikan kepada saya dan saya
anggap jasa yang telah diberikan selama ini kepada saya merupakan hutang yang
harus saya lunasi kepadanya.
Pada tanggal 2 mei 2015 yang mana pada hari itu
kelulusan saya diumumkan lewat sebuah amplop dari sekolah sebelum saya menerima
amplop tersebut saya berdo’a di dalam hati agar diberi kelulusan dengan nilai
yang sesuai kemampuan saya. Saya merasa takut, cemas namun saya penasaran untuk
membukanya jantung saya mulai berdebaar kencang. Melihat teman-teman sekolah
sudah membuka amplopnya semuanya bergembira, tapi ada beberapa teman angkatan
pula yang harus menerima kenyataan pahit serta kekecewaan. Hal itu membuat saya
semakin ketakutan. Lalu ketika saya menerima amplop tersebut dari wali kelas
jantung saya semakin kencang berdebar, perlahan saya membukanya dengan membaca
bismillah dan berdo’a kepada Allah sambil berharap diluluskan. Setelah
mengetahui isi amplop tersebut, alhamdulillah akhirnya semua perasaan itu lega,
utang saya kepada ibu sedikit demi sedikit berkurang karena saya lulus ujian
nasional. Saya sangat bersyukur karena Allah SWT telah menjawab do’a saya,
tidak sabar saya ingin membagi kebahagiaan ini kepada orang tua saya. Saya
segera pulang menemui orang tua dan memberi tahunya bahwa saya lulus dan itu
membuat orang tua saya terharu.
Saya sangat ingin sekali melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi lagi yaitu melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Sewaktu MA
saya mengikuti program SNMPTN saya mendaftarkan diri di Universitas Negeri
Semarang. Namun Allah belum berkehendak, saya sempat putus asa. Setelah SNMPTN
berlalu, ada lagi program SBMPTN yang saya ikuti. Saya berusaha dan berdo’a
agar saya bisa diterima di universitas negeri. Tapi tetap Allah belum
berkehendak. Akhirnya saya mengikuti Ujian Mandiri di Universitas PGRI Semarang
(UPGRIS) dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya terus
berusaha dan berdo’a dan Allah pun mengabulkan do’a saya. Saya lulus di jurusan
tersebut. Saya sangat bersyukur atas semua karunia yang diberikan oleh Allah
SWT. Saya tidak akan mampu melakukannya sendirian tanpa dukungan kedua orang
tua saya, dan teman-teman yang selalu memberi semangat saya untuk terus
berusaha.
Saya diberi kesempatan untuk tinggal di Pondok
Pesantren yang tidak jauh dari kampus. Di kampus saya mempunyai banyak teman
yang bisa berbagi satu sama lainnya. Berbagai macam tingkah laku dari
teman-teman saya disini. Ada yang lucu, ada yang cerewet, dan lain sebagainya.
Meskipun kami berasal dari beragam daerah, tapi kami tetap satu jua. Harapan
saya semoga saya bisa mendapatkan nilai yang sangat memuaskan tentunya. Semua
itu tidak akan terkabul tanpa DUIT (Do’a, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal). Saya
akan terus berusaha demi sebuah kesuksessan saya dari sekarang dan untuk masa
depan yang akan datang.