Jumat, 23 Desember 2016

Memicu Ujian Nasional


Menanggapi tulisan Setia Naka Andrian, saya sangat setuju dengan tulisan tersebut. Menurut saya Ujian Nasional sebaiknya digantikan dengan evaluasi yang bobotnya setara dengan Ujian Nasional. Dalam artian siswa di Indonesia tidak menjadikan Ujian Nasional sebagai ajang kelulusan yang mengerikan. Dan siswa Indonesia tidak hanya mengedepankan untuk mempelajari mata pelajaran(mapel) yang akan diujikan dalam Ujian Nasional. Akan tetapi, dengan menetralkan semua mata pelajaran(mapel) untuk dipelajarinya.
Memang UN adalah cara yang dapat digunakan dalam mengukur kualitas siswa, namun apa itu semua benar? Bahwa siswa dapat diukur dari beberapa soal ujian yang belum tentu dijawab secara jujur. Padahal sebenarnya sudah jelas dalam pasal 58 ayat 1 UU Nomor 20 tahun 2003 bahwa “Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan”. Sebuah pernyataan yang jelas-jelas mengharapkan pendidiklah (guru) yang seharusnya memantau proses belajar siswa, dalam arti menjadi pemantau kualitas siswa.
Di era kontemporer seperti saat ini, banyak metode evaluasi KBM lain yang bisa diterapkan. Untuk menguji kemampuan para siswa, tidak bisa disamaratakan secara nasional. Adalah fakta bahwa sarana prasarana pendidikan di daerah terpencil tertinggal jauh dari yang dimiliki oleh mereka yang belajar di perkotaan.
Karena itu, sangatlah beralasan bila banyak pihak yang menuntut agar pemerintah menghapus UN. Sebagai gantinya, evaluasi pendidikan bisa dikembalikan ke sekolah. Para guru yang mendidik mereka setiap hari pasti mengetahui siapa di antara siswanya yang pintar, nakal, berbakat, dan lain sebagainya. Agar evaluasi berjalan seperti yang diinginkan, kemendikbud bisa saja memaksimalkan fungsi para pengawas sekolah. Dengan begitu, pihak sekolah juga tidak sembarangan melakukan evaluasi dan meluluskan para siswanya.

Memicu Ujian Nasional


Menanggapi tulisan Setia Naka Andrian, saya sangat setuju dengan tulisan tersebut. Menurut saya Ujian Nasional sebaiknya digantikan dengan evaluasi yang bobotnya setara dengan Ujian Nasional. Dalam artian siswa di Indonesia tidak menjadikan Ujian Nasional sebagai ajang kelulusan yang mengerikan. Dan siswa Indonesia tidak hanya mengedepankan untuk mempelajari mata pelajaran(mapel) yang akan diujikan dalam Ujian Nasional. Akan tetapi, dengan menetralkan semua mata pelajaran(mapel) untuk dipelajarinya.
Memang UN adalah cara yang dapat digunakan dalam mengukur kualitas siswa, namun apa itu semua benar? Bahwa siswa dapat diukur dari beberapa soal ujian yang belum tentu dijawab secara jujur. Padahal sebenarnya sudah jelas dalam pasal 58 ayat 1 UU Nomor 20 tahun 2003 bahwa “Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan”. Sebuah pernyataan yang jelas-jelas mengharapkan pendidiklah (guru) yang seharusnya memantau proses belajar siswa, dalam arti menjadi pemantau kualitas siswa.
Di era kontemporer seperti saat ini, banyak metode evaluasi KBM lain yang bisa diterapkan. Untuk menguji kemampuan para siswa, tidak bisa disamaratakan secara nasional. Adalah fakta bahwa sarana prasarana pendidikan di daerah terpencil tertinggal jauh dari yang dimiliki oleh mereka yang belajar di perkotaan.
Karena itu, sangatlah beralasan bila banyak pihak yang menuntut agar pemerintah menghapus UN. Sebagai gantinya, evaluasi pendidikan bisa dikembalikan ke sekolah. Para guru yang mendidik mereka setiap hari pasti mengetahui siapa di antara siswanya yang pintar, nakal, berbakat, dan lain sebagainya. Agar evaluasi berjalan seperti yang diinginkan, kemendikbud bisa saja memaksimalkan fungsi para pengawas sekolah. Dengan begitu, pihak sekolah juga tidak sembarangan melakukan evaluasi dan meluluskan para siswanya.

TIADA HARI TANPA BERSASTRA DAN BERKARYA


Pada tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang mengadakan acara untuk memperingati bulan bahasa yang bertemakan Upgris Bersastra dengan membedah 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus dan 1 pengarang karya Triyanto Triwikromo. Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan yang sangat melegenda. Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964 adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia. Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama. Triyanto Triwikromo selama 30 tahun dalam perjalanan sebagai pengarang.
Dalam acara Upgris Bersastra, Pak Rektor membacakan sebuah puisi yang berjudul Takziah karya Triyanto Triwikromo. Dengan diawali dengan bercerita, Pak Rektor yang malantunkan sebuah lagu dengan diiringi dengan gitar akustik. Semua Mahasiswa, Dosen dan segenap tamu undangan tersanjung dengan keakraban yang diperlihatkan oleh Pak Rektor dengan bernyanyi diiringi music gitar yang dipetik dengan tangan pak rektor sendiri. terlihat sangat asyik memainkan gitar tanpa ada nada yang melenceng. Lagu yang dikarangnya sendiri sejak muda dulu masih hangat diingatannya walaupun ada yang terlupakan pada bagian akhir lagu. Itu tidak merusak keapikan penampilan Pak Rektor. Penampilan pertama telah dimeriahkan oleh pembacaan puisi Pak Rektor. Sebelum mengawali pembacaan puisi oleh Pak Rektor, telah dibuka dengan pembacaan puisi diiring tarian-tarian yang sangat menggebrak panggung. Diiringi dengan music gamelan yang menyatu padu pada tarian. Menjadikan pembacaan puisi terlihat menjadi syahdu dan khidmat.
Puisi kedua dibacakan oleh ibu Sti Suciati yang berjudul Selir Musim Panas. Diawali dengan iringan lagu yang didampingi oleh Mahasiswa FPBS. Penampilan yang sangat haru dan menyentuh. Dalam puisi-puisi Triyanto Triwikromo memang sangat mengesankan dan dapat diambil intisari dalam isi puisi. Tak terkecuali buku-buku dan cerpennya.
Pada pembedahan buku karya Triyanto Triwikrowo dengan 3 kritikus seperti Pak Pras dan dua kawannya. Pada buku karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Bersepeda di Neraka telah dianalisis oleh Pak Pras. Pak Pras berkata “menulis itu dapat menjadi alat untuk melawan kelupaan”. Menulis memang sangat penting bagi semua orang yang masih menimba ilmu degan baik. Saya sangat setuju dengan hal yang dikatakan oleh beliau. Karena setiap manusia mempunyai sifat yang pelupa. Dengan adanya catatan kita dapat mengingat kembali dan merefresh otak kita yang telah lama kotor dengan hal-hal lain.
Seperti yang dikatakan oleh Pak Pras bahwa “ Triyanto Triwikromo pernah tidak yakin bahwa tulisannya akan dibaca oleh banyak orang, itu hal yang sangat mustahil baginya”. Disela-sela pembicaraan dengan 3 kritikus diselangi dengan musikalisasi yang ditampilkan oleh Biscuittime Band. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Biscuittime Band mengandung unsur puisi yang terkadang diambil dari bait-bait tersebut, dan lalu di padukan dengan lirik lagu yang pantas untuknya. Semua termotivasi pada puisi-puisi. Dengan tiga personil satu vokalis satu gitar dan satu bas. Mereka membawakan lagu dengan apik. Semua tersentuh dengan lagunya dan menikmatinya.
Menurut saya sendiri, dengan adanya acara seperti ini dapat menambah semangat para mahasiswa yang menghadiri acara tersebut. Akan tetapi ada saat-saat acara mulai membosankan sekali. Dengan pembicaraan yang kurang menarik, terkadang sangat menjenuhkan sekali. Satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan dimana acara Upgris Bersastra diselenggarakan yaitu gedung balairung. Akan tetapi, dengan adanya penampilan biscuittime disela-sela pembedahan buku menambah semangat mahasiswa seperti saya untuk tidak beranjak dari tempat duduknya. Sambil menikmati lagu kita juga mendapatkan pengarahan dan pengalaman dari para kritikus.
Acara Upgris bersastra ini mendapatkan kesan positif bagi para mahasiswa. Walaupun pada detik-detik terakhir dalam pembahasan satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan. Akan tetapi, respon mahasiswa tentang bersastra sangat baik. Dengan adanya acara ini mahasiswa mendapatkan motivasi untuk selalu bersastra. Jangan patah semangat untuk para generasi penerus bangsa dalam bersastra. Suatu karya sangat penting bagi suatu bangsa. Terus berkarya dan terus untuk memberi karya-karya yang berguna bagi  bangsa dan Negara.

Ulasan Teater Gema “ Jaka Tarub ” dan Monolog Balada Sumarah


Legenda Jaka Tarub
Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa. Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub ( "pemuda dari Tarub" ). Setelah dewasa ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub adalah tokoh yang dianggap sebagai leluhur dinasti Mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa - sebagian atau seluruhnya - sejak abad ke-17 hingga sekarang. Menurut sumber masyarakat di desa Widodaren, Gerih, Ngawi, peristiwa ini terjadi di desa tersebut. Sebagai bukti masyarakat setempat percaya karena terdapat petilasan makam Jaka Tarub di desa tersebut. Rata-rata masyarakat setempat yang sudah lanjut usia tahu jalan cerita Jaka Tarub dengan 7 bidadari. Nama desa Widodaren itu dipercayai masyarakat setempat berasal dari kata widodari yang berarti dalam bahasa Indonesia adalah bidadari. Di desa ini juga terdapat sendang yang konon dulu adalah tempat para bidadari mandi dan Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Anak - anak Teater Gema telah memerankan perannya dengan sangat baik. Walaupun yang berperan menjadi Nawang wulan suaranya terkadang tidak terkontrol, sehingga suara tidak terdengan lantang. Akan tetapi hal seperti itu tidak menghalangi pementasan teater tersebut. 
Legenda Jaka Tarub memiliki banyak versi, namun versi yang standar, sebagaimana tertera pada kesultanan Mataram. Singkat awal cerita. Jaka Tarub mencuri selendang Nawangwulan. Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja.
Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa. Nawangwulan bergabung kembali bersama bidadari lain. Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung.
Nawangwulan yang marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut mengancam meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, Pada waktu-waktu tertentu ia rela datang untuk menyusui bayi Nawangsih. Dan Nawangwulan masih memenuhi haknya sebagai seorang ibu untuk bertemu dengan Nawangsih ketika ia sudah bisa pergi sendiri ke mata air untuk menemui Nawangwulan setiap malam purnama dengan syarat Nawangsih pergi ke mata air tidak ditemani oleh siapapun.
Legenda Jaka Tarub yang pentaskan oleh Teater Gema sudah sangat memuaskan penonton. Penonton sampai tertawa terbahak – bahak dalam dialog Jaka Tarub yang sangat exspresif. Apalagi dengan adanya karakter Tomo dan Topo muncul menggubrak panggung teater yang tegang menjadi lebih santai dan bercorak. Anak – anak Teater Gema dapat menjadikan Leganda Jaka Tarub lebih asri dan lebih membawa kita ke dalam masa – masa adanya Legenda Jaka Tarub. Sebenarnya saya kurang memahami mengapa ada peranan Kang Tomo dan Kang Topo, setahu saya tidak ada peranan Kang Topo dan Kang Tomo dalam Legenda Jaka Tarub yang sebenarnya. Mungkin Teater Gema ingin menjadikan Legenda Jaka Tarub yang dipentaskan menjadi berbeda dengan Legenda Jaka Tarub yang seperti biasanya. Akan tetapi dengan mengurangi kekhusukan peran Jaka Tarub dan Nawangwulan.

Monolog Balada Sumarah
Monolog Balada Sumarah yaitu menceritakan seorang perempuan TKI yang ingin mengungkapkan pembelaan terhadap tuduhannya membunun majikannya sendiri. Sumarah berasal dari Desa Karangsari. Keberadaan Sumarah di desa kelahirannya tidak diperlakukan seperti layaknya masyarakat desa tersebut. Sumarah selalu dicela dimaki dengan omongan – omongan pedas pada tetangganya sendiri. Bahkan seorang guru madrasah Sumarah pun ikut mencelanya walaupun dengan halus. Hal itu berawal dari bapak sumarah yang ditudung sebagai seorang PKI. Padahal berita yang diketahui Sumarah dari Simbahnya Bapak itu orangnya lugu, tidak mengerti hal – hal seperti itu. Supir andhong adalah pekerjaan bapak sumarah, yang bersedia mengantar siapa saja yang ingin diantar olehnya. Bapak sumarah sering mengantarkan Pak Lurah ke sebuah tempat. Lalu ada teman Bapak datang ke rumah untuk menanyakan bapak dimana, dan tiba – tiba seorang tentara menciduk bapak entah kemana. Warga mengatakan bahwa Bapak Sumarah adalah seorang PKI. Semenjak itu Sumarah selalu dicaci dan dicela dengan perkataan yang kejam dan menusuk hati Sumarah. Sampai – sampai Sumarah tidak dapat mengambil ijazahnya sendiri.  Dengan tertekannya Sumarah memutuskan untuk menjadi seorang TKI pergi jauh dari desa kelahirannya yang menyebabkan Sumarah tertekan. Akhirnya Sumarah terbang ke Arab Saudi, di Arab Saudi ternyata Sumarah pun kandas. Gajinya setahun tidak didapatkannya. Semua haknya dirampas oleh majikannya. Kehormatannya pun dirampas pula. Sungguh kejam dunia ini.
Monolog Balada Sumarah yang dibacakan oleh salah satu mahasiswi Universitas PGRI Semarang  ini sangat bagus dan sangat exspresif. Patut dijadikan pelarajan untuk kita semua. Tidak salah monolog ini terpilih menjadi juara dan kini sampai ke jenjang yang lebih tinggi yaitu tingkat provinsi.     

Sumpah Pemuda Koma, Pemuda Menganga


Indonesia merupakan nagara besar yang nilai-nilai historisnya tak pernah lepas dari peran mahasiswa ( pemuda ). Puncak yang menjadi awal pergerakan mahasiswa meletus pada tanggal 28 Oktober 1928. Gerakan yang diprakarsai oleh kaum terpelajar dari jawa melahirkan ‘sumpah pemuda’, yang berisi pengakuan bahwa seluruh pemuda Indonesia, bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Sejak saat itu persatuan diantara pemuda semakin kuat dan gerakannya semakin terarah. Hingga akhirnya berhasiler merebut dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ini pada tanggal 17 Agustus 1945. Gerakan mahasiswa juga memiliki peran yang besar dalam peristiwa perebutan demokrasi tahun 1998, yang telah di monopoli oleh rezim Orde Baru. Sehingga Negara menjadi otoriter dan justru bertentangan dengan amanat Undang-Undang dasar 1945. Mereka rela untuk mengorbankan harta denda bahkan nyawa, demi kebebasan dan keadilan.
         Indonesia merupakan Negara dengan angka pertumbuhan penduduk yang tinggi. Survei menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-4 jumlah penduduk terbanyak dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk mencapai 253,60 juta jiwa yang didominasi oleh pemuda. Berbicara tentang pemuda Indonesia mengingatkan kita pada sebuah lagu yang tercipta di masa perjuangan.
          Berdiskusi, membaca, dan menulis juga akan mendorong lahirnya ide-ide atau gagasan-gagasan besar, yang akan berkembang menjadi sebuah pergerakan. Ibarat seekor macan, bacaan adalah kuku-kukunya yang digunakan untuk mengais-ngais ilmu pengetahuan, tulisan adalah taring yang digunakan untuk menggigit ilmu dan ide. Mulutnya adalah aungan, digunakan untuk menyuarakan ide kemudian mendiskusikannya, sedang pergerakan adalah tenaga dan kekuatan sebagai wujud keperkasaannya. Dengan keadaan yang demikian maka kambing, rusa, bahkan banteng sekalipun akan lari terbirit-birit ketika melihatnya. Gerakannya pasti, kuat, dan terarah. Karena gerakan seperti ini adalah gerakan yang tersusun dari suara inteletual, suara keadilan, melebur dengan kekuatan moral.   
Pada tanggal 16 Mei 1945  di Bandung telah diadakan Kongres Pemuda Seluruh Jawa yang diprakarsai “Angkatan Muda Indonesia”. Kongres tersebut dihadiri lebih dari 100 utusan pemuda, pelajar dan mahasiswa seluruh Jawa.Kongres tersebut menghimbau para pemuda di Jawa hendaknya bersatu dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan.
Kala itu terjadi kekosongan kekuasaan (vacuum of power) di Indonesia setelah Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik berakhir.Kesempatan emas yang ada kemudian dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh bangsa Indonesia untuk dapat segera mewujudkan cita-cita menjadi negara yang mereka.Menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi perbedaan pendapat antara golongan muda dengan golongan tua tentang waktu pelaksanaan proklamasi.Kemudian sekelompok pemuda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta keluar kota menuju Rengasdengklok, sebuah kota kawedanan di pantai utara Kabupaten Karawang agar terhindar dari pengaruh bangsa Jepang, sehingga dapat segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya perbedaan pendapat tersebut menemukan titik temu, pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia resmi menjadi negara yang merdeka.Proklamasi tersebut merupakan proklamasi tercepat di kawasan negara-negara jajahan Eropa, yakni Asia dan Afrika.
Mengutip kalimat bijak dari Bung Karno, “Perjuanganmu jauh lebih berat, perjuanganku melawan penjajah, sedangkan perjuanganmu melawan bangsamu sendiri”.Negeri ini membutuhkanpemuda yang berbudi pekerti luhur, berjiwa nasionalisme dan berkomitmen dengan janjinya, Sumpah Pemuda. Tetap bersatu padu dalam keragaman, “unity in diversity”!
Persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia tersebut hendaknya menjadi tamparan keras bagi pemuda.Sudah saatnya kita mengenangkembali ketika para pemuda mengucapkan ikrarnya dengan menyingkirkan sikap individualis,bersama-sama membuang ego pribadi dan menyatukan hati demi bangsa dan negara.Selayaknya manusia sebagai makhluk sosial dan pemuda sebagai ujung tombak pergerakan mampu berjuang optimal sebagaimana mestinya.Pemuda sebagai agen perubahan dan kontrol sosial harus diimplementasikan dengan baik dan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.Kita bangun kembali semangat untuk memperkuat kesadaran nasionalisme dan patriotisme pemuda Indonesia dalam proses penyelesaian seluruh persoalan yang dihadapi bangsa ini serta pembangunan di Indonesia. Sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dimata dunia diberbagai aspek kehidupan, seperti yang dicita-citakan para pendahulu kita.
Mari peringatan hari ‘Sumpah Pemuda’, yang hampir satu abad ini kita jadikan sebagai bahan refleksi. Apa yang seharusnya kita lakukan untuk mengembalikan kekuatan, keperkasaan, dan kepercayaan diri mahasiswa ( pemuda ). Supaya macan yang kini sedang murung dan lesu, segera bangkit dengan penuh gairah, dan semangat untuk melanjutkan perjuangan. Yang pada akhirnya gerakan-gerakan mahasiswa mampu menjadi gerakan perubahan yang memiliki kontribusi nyata, dalam melanjutkan pembangunan nasional menuju Indonesia yang mandiri, makmur, dan sejahtera.


Jungkir Baliknya Pilkada


Esai Irfan Ridwan Maksum berjudul Merawat Pilkada (Kompas, 27 September 2016) cukup menarik perhatian. Pada saat UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah ditetapkan, bangsa Indonesia memang memilih mekanisme pengisian jabatan kepala daerahnya, baik di provinsi maupun di kabupaten/kota, melalui pemilu langsung oleh masyarakat setempat yang dikenal dengan pemilihan kepala daerah secara langsung. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama Pemilihan umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau disingkat Pemilukada. Pemilihan kepala daerah pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007. Pilkada sangat perlu diadakan, dengan adanya pilkada kita sebagai rakyat biasa dapat memilih pilihan kita. Walaupun akhirnya pilihan kita tidak selalu menang. Sistem ini jangan sampai digantikan dengan cara lainnya. Perlu kita tahu Indonesia menyelenggarakan pemilihan serentak dengan cakupan nasional.  Pilkada serentak sesungguhnya sudah pernah diselenggarakan di Indonesia, namun dalam cakupan provinsi.
Tahun 2006, pilkada serentak diadakan di seluruh Aceh yang meliputi pemilihan gubernur dan kepala daerah di 19 kabupaten/kota. Empat tahun berikutnya, pilkada diselenggarakan di 17 kabupaten/kota di Sumatera Barat secara bersamaan. Tetapi memang, dalam konteks skala, Pilkada 9 Desember 2015 merupakan yang pertama kali diadakan dengan cakupan nasional. Pilkada kali ini berlangsung dengan tahapan pemilihan dan hari pencoblosan yang bersamaan untuk 269 pemilihan kepala daerah, yang terdiri dari 9 tingkat provinsi--pemilihan gubernur; 30 kota--pemilihan wali kota; dan 224 kabupaten--pemilihan bupati. Seluruh 269 pemilihan kepala daerah itu berlangsung di 32 dari 34 provinsi Republik Indonesia. Hanya dua provinsi yang tak ikut menyelenggarakan Pilkada 2015. Keduanya kebetulan daerah khusus, yakni DKI Jakarta, dan Aceh -alias Nangroe Aceh Darussalam. DKI adalah provinsi dengan lima kota administrasi dan satu kabupaten administrasi -Kepulauan Seribu. Namun para wali kota dan bupati merupakan pembantu gubernur, yang tidak dipilih melalui pemilihan langsung, tapi ditetapkan gubernur. Sedangkan Aceh baru akan melangsungkan Pilkada pada tanggal 1 Februari 2017. Akan tetapi, Pilkada serentak sepenuhnya, baru akan benar-benar berlangsung di seluruh Indonesia pada 2027 mendatang. Sebelum itu akan berlangsung dua pilkada serentak yang parsial, yang mencakup beberapa daerah saja. Pertama, Pilkada 17 Februari 2016 yang melibatkan 99 daerah. Selanjutnya, Pilkada Juni 2018 yang melibatkan 180 daerah. Pilkada serentak tak bisa langsung diselenggarakan untuk seluruh wilayah Indonesia karena sebelumnya pemilihan berlangsung pada waktu yang berbeda-beda, sehingga akhir masa jabatan para bupati/walikota dan gubernur berbeda-beda pula. Menurut keputusan Mahkamah Konstitusi, masa jabatan tidak boleh dipotong sehingga pengaturan dilakukan bertahap. Adapun bagi kepala daerah yang masa jabatannya berakhir menjelang 2027 nanti, dia akan digantikan pejabat kepala daerah hingga berlangsungnya Pilkada Serentak 2027. Selain pilkada, sebelum pemilihan serentak pada 2027 mendatang, akan ada pemilihan legislatif, dan pemilihan presiden pada 2019.
Sebelum Pilkada 2015, pilkada dua putaran dimungkinkan. Ketentuannya meenyebutkan suatu pasangan calon dinyatakan memenangkan Pilkada jika mendapatkan suara terbanyak dengan perolehan sedikitnya 30% dari suara yang sah. Jika tak ada yang mendapatkan suara 30%, maka diselenggarakan pemungutan suara putaran kedua dengan diikuti dua pasangan calon yang paling banyak mendapatkan suara. Kita sebagai warga Indonesia yang patuh dengan aturan dan hukum di Indonesia harus ikut berpartisipasi dalam hal seperti, pemilu ataupun pilkada yang diseleggarakan oleh pemeritah kota.