Selasa, 13 Oktober 2015

Teater Tikar



Teater merupakan sebuah penampilan seorang seni yang mampu mengolah tubuhnya menjadi luar biasa, bermula dari suatu pagi yang terlihat seperti senja. matahari malu-malu untuk mengucapkan selamat pagi. tangan setengah tua menggenggam gagang sapu bak tentara mengangkat senjata. sama sekali tidak terlihat gemetar untuk menyapu kerikil-kerikil di ubun teras rumahnya.
ketika pagi mengucapkan selamat pagi pada wanita, tetapi wanita itu terlalu asyik dengan sapu yang ia bawa untuk menyapu kerasnya,dimana kaki-kaki kecil pernah menapak disana bersama sepasang kaki besar yang tidak pernah absen menemani. seperti ada sesuatu yang turut dalam ijuk sapunya ke kanan dan ke kiri,terbuang bergabung bersama debu.
pada waktu itu,cukup bungkam dengan jawaban si wanita yang terlalu singkat untukmem menjawab pertanyaan itu,wanita itu tidak berlama lama untuk berbincang pada pagi yang mau bertanya pada wanita ini. lalu wanita itu juga tidak berlama-lama mengusap figura-figura yang tertempel di dindingnya, akhirnya si wanita mengalah dengan pagi yang selalu bertanya, wanita mengalah bukan karena ia kalah, akan tetapi wanita itu lelah dengan semua pertanyaan yang di lontarkan pagi itu.
Kenangan-kenangan yang pernah kita alami tidak hanya kenangan-kenangan manis yang dapat kita ingat selalu, tetapi ada juga kenangan kita yang mengancam kita untuk berbuat tidak, dan sampai putus asa.”kenangan sepertinya bersekutu dengan pagi untuk hadir setiap hari. Tapi ternyata mereka berdua tidak mengusik, tidak juga berisik.”
Terdapat kenangan yang dialami oleh seorang wanita yang ditinggal oleh suami dan seorang anaknya,sehari-hari hanya menyapu teras rumahnya,dan mengusap figura-figura yang tertempel di dinding rumahnya. Ingin si wanita mencari dan bercerita tentang kenangannya, tetapi si wanita tidak akan mencari tentang kenangan-kenangan yang sudah lama ia ingin melupakannya, tetapi kenangan itu tidak akan terlupakan oleh si wanita.
Kenangan yang dulu pernah ada yaitu sebuah pelukan terakhir dan telapak kaki di teras. Sebenarnya wanita sangat merindukan akan hal itu, tetapi wanita membiarkan kerinduan itu menggunung, agar kita dapat mendakinya, hingga meretaskan hujan keresahan, 
Ketika kenangan kembali hadir dihadapan wanita itu, seakan-akan wanita itu langsung tenggelam seutuhnya dalam air. Dan sampai tidak kelihatan batang hidungnya. Ingin rasanya yang ia temukan hanyalah kosong belaka.
Sebenarnya ingin si wanita itu menemui kenangannya, tetapi kenangan itu selalu berjalan dan terus berjalan, tidak pernah untuk berhenti. Dan tidak bisa si wanita itu menggapai kenangan itu lagi , padahal bayangan kenangan itu ada didepan mata, tetapi kenangan itu terus berjalan dan berjalan, tidak pernah ada habisnya langkah kenangan itu.
Dan wanita itu seketika mampu membuat ia bugkam. Ternyata ia terlalu merindukan sosok wanita. Sorot mata dan aroma tubuh terbujur di bak mandi. Rindu berebdam bersama, saling bersebelahan,berbincang berdua hingga ujung jemari mereka berkerut, hingga bibir mereka berdua membiru. Sedangkan wanita itu tetap di sana, pergi melangkah begitu saja membiarkan ia bercakap-cakap dengan bayangan. Namun wanita itu hanya berdiri terdiam didalamnya,
Wanita itu tidak hanya menenggelamkan dirinya,tetapi ia juga menenggelamkan semua cerita-ceritanya kedalam bak mandi itu. Lali wanita itu mengikuti apa yang dikatakan olehnya,membuang kenangan yang pahit, agar di sana tidak ada kenangan yang pahit lagi,tidak ada cerita-cerita yang menenggelamkan ia kedalam bak mandi, ketika sore menjelang, ia siap  berendam. Menenggelamkan seluruh tubuh dalam air bening yang tidak ada tubuh yang lain didalamnya. Menyingkirkan semua bayangan dan juga ancaman.  
mungkin sekarang si wanita sudah lelah dengan kenangan itu, wanita hanya bisa menangis dan terus menangis diatas kasusnya yang sudah dibanjiri oleh air matanya. sampai wanita itu terlelap tidur tidak berdaya, wanita itu tidak bangkit dari tidurnya cukup lama,sampai luber kemana mana.
kenangan itu selalu mengejar wanita itu, padahal si wanita sudah memendamnya dalam-dalam. tetapi kenangan itu selalu membayangi wanita itu, kenangan selalu hadir dalam hidupnya mengiringi hari harinya, meski itu kenangan pahit dalam hidupnya. sepertinya wajah wanita itu berkerut,sama seperti ujung jemari mereka berdua ketika terlalu lama berendam didalam bak mandi.
saat malam tiba, si wanita hanya berbincang-bincang dengan dinding yang ikut bermuram. entah kenapa begitu panjang masa yang mengancam kenangan itu. wanitatet itu terus menangis hingga membasahi kaki si wanita dan kenapa malam itu tidak kunjung habis, mungkin malam itu malam yang wanita itu sangat benci,karena ada aroma tubuh yang turut kedalam kenangan itu.
dan wanita mulai teringat dengan lidahnya yang pernah menjadi kelu untuk sekedar menceritakan sebuah dongeng pada telinga yang sudah siap mendengarkan diatas pangkuannya. telinga yang setiap malam menagih kata demi kata dari mulut si wanita. wanita itu sangat merindukan kenangannya, hingga si wanita membelai bantal yang mulai basah akan air mata yang ia jatuhkan setiap belaiannya.
si wanita tidak banyak tahu tentang cerita dongeng, yang terlalu banyak masa lalu yang diungkit didalam dongeng itu sendiri, dongeng adalah masa lalu yang tercoret di dinding-dindingnya, dan sebuah figuran yang terpajang di ruang tamunya. namun,bukan juga dongeng, karena itu bukan putri dan lelaki yang ia cintai bukanlah pangeran. wanita itu hanya seorang wanita yang sibuk menyapu teras rumahnya setiap pagi.
suatu saat,ketika si wanita tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur,karena dinding-dinding itu terlihat berbicara sepanjang malam. bercerita dengan bahasa-bahasa yang wanita itu sendiri tidak memahaminya. coretan-coretan di dinding itu berbicara tentang masa lalu yang pernah mengutuknya, membayangi masa depan si wanita itu, bahkan mengutuk seluruh hidupnya.
dan pada saat itu si wanita tidak mau untuk menyapu teras rumahnya lagi,kerikil-kerikil itu dibiarkannya mengotori teras rumahnya. dan tiba tiba amarahnya mulai ada. si wanita mulai menyingkirkan figura-figura yang ada di dinding rumahnya. si wanita tidak mau meletakkan jemarinya lagi di atas sana. semua debu-debu beterbangan menyingkir. dan pada pagi hari, si wanita berharap agar kenangan itu turut ikut kedalam laci bersama figura-figura yang disimpannya rapi.
si wanita tiba tiba teringat tentang sebuah pagi dimana kepala itu tenggelam di dadanya, tangis yang meledak di dadanya. kemudian derap langkah itu semakin mendekat dan terdengar membahayakan seperti seribu serdadu yang datang tiba-tiba di pagi buta. anak lelakinya bergetar dalam pelukannya, tanpa dilepaskannya, tangan bergetar itu melepaskan diri. pergi juga akhirnya, entah kemana.
kemudian kenangan itu hadir lagi dengan sempurna, sebuah pamit yang akhirnya menjadi tegur sapa terakhir pada si wanita. ia sudah lelah mencari dan mengeruk cerita dari bibir si wanita tentang dimana ayah dan sayap emasnya, maka lebih baik ia pergi dengan wanita yang tenggelam dalam air.
maka, ia jadi seperti orang yang menyerah sebelum berperang. putus asa atas segala keputus-asaan yang ada dalam diri si wanita. sesal karena membiarkan ayah dan sayap emasnya itu pergi dibawa serdadu disebuah pagi yang riuh di gedung samping rumahnya. Riuh pidato yang sama sekali ia tak mengerti mengapa ayahnya harus di bawa pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar