Teater
merupakan sebuah penampilan seorang seni yang mampu mengolah tubuhnya menjadi
luar biasa, bermula dari suatu pagi yang terlihat seperti senja. matahari
malu-malu untuk mengucapkan selamat pagi. tangan setengah tua menggenggam
gagang sapu bak tentara mengangkat senjata. sama sekali tidak terlihat gemetar
untuk menyapu kerikil-kerikil di ubun teras rumahnya.
ketika
pagi mengucapkan selamat pagi pada wanita, tetapi wanita itu terlalu asyik
dengan sapu yang ia bawa untuk menyapu kerasnya,dimana kaki-kaki kecil pernah
menapak disana bersama sepasang kaki besar yang tidak pernah absen menemani.
seperti ada sesuatu yang turut dalam ijuk sapunya ke kanan dan ke kiri,terbuang
bergabung bersama debu.
pada
waktu itu,cukup bungkam dengan jawaban si wanita yang terlalu singkat untukmem
menjawab pertanyaan itu,wanita itu tidak berlama lama untuk berbincang pada
pagi yang mau bertanya pada wanita ini. lalu wanita itu juga tidak berlama-lama
mengusap figura-figura yang tertempel di dindingnya, akhirnya si wanita mengalah
dengan pagi yang selalu bertanya, wanita mengalah bukan karena ia kalah, akan
tetapi wanita itu lelah dengan semua pertanyaan yang di lontarkan pagi itu.
Kenangan-kenangan
yang pernah kita alami tidak hanya kenangan-kenangan manis yang dapat kita
ingat selalu, tetapi ada juga kenangan kita yang mengancam kita untuk berbuat
tidak, dan sampai putus asa.”kenangan sepertinya bersekutu dengan pagi untuk
hadir setiap hari. Tapi ternyata mereka berdua tidak mengusik, tidak juga
berisik.”
Terdapat
kenangan yang dialami oleh seorang wanita yang ditinggal oleh suami dan seorang
anaknya,sehari-hari hanya menyapu teras rumahnya,dan mengusap figura-figura
yang tertempel di dinding rumahnya. Ingin si wanita mencari dan bercerita
tentang kenangannya, tetapi si wanita tidak akan mencari tentang
kenangan-kenangan yang sudah lama ia ingin melupakannya, tetapi kenangan itu
tidak akan terlupakan oleh si wanita.
Kenangan
yang dulu pernah ada yaitu sebuah pelukan terakhir dan telapak kaki di teras.
Sebenarnya wanita sangat merindukan akan hal itu, tetapi wanita membiarkan
kerinduan itu menggunung, agar kita dapat mendakinya, hingga meretaskan hujan
keresahan,
Ketika
kenangan kembali hadir dihadapan wanita itu, seakan-akan wanita itu langsung
tenggelam seutuhnya dalam air. Dan sampai tidak kelihatan batang hidungnya.
Ingin rasanya yang ia temukan hanyalah kosong belaka.
Sebenarnya
ingin si wanita itu menemui kenangannya, tetapi kenangan itu selalu berjalan
dan terus berjalan, tidak pernah untuk berhenti. Dan tidak bisa si wanita itu
menggapai kenangan itu lagi , padahal bayangan kenangan itu ada didepan mata,
tetapi kenangan itu terus berjalan dan berjalan, tidak pernah ada habisnya
langkah kenangan itu.
Dan
wanita itu seketika mampu membuat ia bugkam. Ternyata ia terlalu merindukan
sosok wanita. Sorot mata dan aroma tubuh terbujur di bak mandi. Rindu berebdam
bersama, saling bersebelahan,berbincang berdua hingga ujung jemari mereka
berkerut, hingga bibir mereka berdua membiru. Sedangkan wanita itu tetap di
sana, pergi melangkah begitu saja membiarkan ia bercakap-cakap dengan bayangan.
Namun wanita itu hanya berdiri terdiam didalamnya,
Wanita
itu tidak hanya menenggelamkan dirinya,tetapi ia juga menenggelamkan semua
cerita-ceritanya kedalam bak mandi itu. Lali wanita itu mengikuti apa yang
dikatakan olehnya,membuang kenangan yang pahit, agar di sana tidak ada kenangan
yang pahit lagi,tidak ada cerita-cerita yang menenggelamkan ia kedalam bak
mandi, ketika sore menjelang, ia siap
berendam. Menenggelamkan seluruh tubuh dalam air bening yang tidak ada
tubuh yang lain didalamnya. Menyingkirkan semua bayangan dan juga ancaman.
mungkin
sekarang si wanita sudah lelah dengan kenangan itu, wanita hanya bisa menangis
dan terus menangis diatas kasusnya yang sudah dibanjiri oleh air matanya.
sampai wanita itu terlelap tidur tidak berdaya, wanita itu tidak bangkit dari
tidurnya cukup lama,sampai luber kemana mana.
kenangan
itu selalu mengejar wanita itu, padahal si wanita sudah memendamnya
dalam-dalam. tetapi kenangan itu selalu membayangi wanita itu, kenangan selalu
hadir dalam hidupnya mengiringi hari harinya, meski itu kenangan pahit dalam
hidupnya. sepertinya wajah wanita itu berkerut,sama seperti ujung jemari mereka
berdua ketika terlalu lama berendam didalam bak mandi.
saat
malam tiba, si wanita hanya berbincang-bincang dengan dinding yang ikut
bermuram. entah kenapa begitu panjang masa yang mengancam kenangan itu.
wanitatet itu terus menangis hingga membasahi kaki si wanita dan kenapa malam
itu tidak kunjung habis, mungkin malam itu malam yang wanita itu sangat
benci,karena ada aroma tubuh yang turut kedalam kenangan itu.
dan
wanita mulai teringat dengan lidahnya yang pernah menjadi kelu untuk sekedar
menceritakan sebuah dongeng pada telinga yang sudah siap mendengarkan diatas
pangkuannya. telinga yang setiap malam menagih kata demi kata dari mulut si
wanita. wanita itu sangat merindukan kenangannya, hingga si wanita membelai
bantal yang mulai basah akan air mata yang ia jatuhkan setiap belaiannya.
si
wanita tidak banyak tahu tentang cerita dongeng, yang terlalu banyak masa lalu
yang diungkit didalam dongeng itu sendiri, dongeng adalah masa lalu yang
tercoret di dinding-dindingnya, dan sebuah figuran yang terpajang di ruang
tamunya. namun,bukan juga dongeng, karena itu bukan putri dan lelaki yang ia
cintai bukanlah pangeran. wanita itu hanya seorang wanita yang sibuk menyapu
teras rumahnya setiap pagi.
suatu
saat,ketika si wanita tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur,karena
dinding-dinding itu terlihat berbicara sepanjang malam. bercerita dengan
bahasa-bahasa yang wanita itu sendiri tidak memahaminya. coretan-coretan di
dinding itu berbicara tentang masa lalu yang pernah mengutuknya, membayangi
masa depan si wanita itu, bahkan mengutuk seluruh hidupnya.
dan
pada saat itu si wanita tidak mau untuk menyapu teras rumahnya
lagi,kerikil-kerikil itu dibiarkannya mengotori teras rumahnya. dan tiba tiba
amarahnya mulai ada. si wanita mulai menyingkirkan figura-figura yang ada di
dinding rumahnya. si wanita tidak mau meletakkan jemarinya lagi di atas sana.
semua debu-debu beterbangan menyingkir. dan pada pagi hari, si wanita berharap
agar kenangan itu turut ikut kedalam laci bersama figura-figura yang
disimpannya rapi.
si
wanita tiba tiba teringat tentang sebuah pagi dimana kepala itu tenggelam di dadanya,
tangis yang meledak di dadanya. kemudian derap langkah itu semakin mendekat dan
terdengar membahayakan seperti seribu serdadu yang datang tiba-tiba di pagi
buta. anak lelakinya bergetar dalam pelukannya, tanpa dilepaskannya, tangan
bergetar itu melepaskan diri. pergi juga akhirnya, entah kemana.
kemudian
kenangan itu hadir lagi dengan sempurna, sebuah pamit yang akhirnya menjadi
tegur sapa terakhir pada si wanita. ia sudah lelah mencari dan mengeruk cerita
dari bibir si wanita tentang dimana ayah dan sayap emasnya, maka lebih baik ia
pergi dengan wanita yang tenggelam dalam air.
maka,
ia jadi seperti orang yang menyerah sebelum berperang. putus asa atas segala
keputus-asaan yang ada dalam diri si wanita. sesal karena membiarkan ayah dan
sayap emasnya itu pergi dibawa serdadu disebuah pagi yang riuh di gedung
samping rumahnya. Riuh pidato yang sama sekali ia tak mengerti mengapa ayahnya
harus di bawa pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar