Rabu, 21 Oktober 2015



WAYANG KAMPUNG SEBELAH “MAWAS DIRI MENAKAR BERANI ”


Wayang kampung sebelah memang berbeda dengan pementasan wayang-wayang yang lain. Wayang kampong sebelah menggunakan tokoh-tokoh yang diciptakannya sendiri. Diantaranya Kampret, Pak Lurah Somad, raja dangdut Koma Ramarimari, Minul Daratinggi,dan Syah Marni.

Tokoh-tokoh dalan wayag ini berbeda dengan wayang-wayang lainnya. Seperti, memiliki patahan dipinggul dan kepala. Membuat tokoh-tokoh bergerak dan bergoyang luwes layaknya manusia. Memang itu tergantung pada si dalang, ki jlitheng memang sangat piawai dalam memainkan tokoh-tokoh dalam menggerakkan tangannya sehingga membuat benda mati seakan-akan hidup.

Cerita singkat wayang kampong sebelah yang berjudul Mawas Diri Menakar Berani. Disebuah desa yang bernama desa Bangunjiwa, ada pemiliha kepala desa atau Lurah. Tetapi pemilihan itu tidak ada keadilannya. Karena, semua calon kepala desa menggunakan cara yang tidak halal( menyogok,memberi bonus).

Seperti halnya pak Somad, akhirnya terpilih menjadi kepala desa. Sebelum pak Somad terpilih Menjadi kepala desa, pernah menjanjikan untuk memberikan bonus pada pengikutnya dalam kampaye. Dan setelah pengikut pak Somad mengetahuinya bahwa pak Somad lah yang menjadi pemenang dalam pilkades, mereka langsung menghampiri Pak Somad dan langsung menagih bonus yang pernah dijanjikannya. Pak Somad memberi uang sebesar tiga juta rupiah untuk 3 orang. Tetapi sang ketua pengikut memberikan uang kepada bawahannya hanya satu juta untuk 2 orang. Dan bawahanya memberikan kepada temannya hanya dikasih seratus ribu saja. Memang di desa Bangunjiwa tidak menanamkan keadilan.

Pada sisi lain ada yang tidak setuju apabila yang memenangkan pilkades itu Pak Somad,yaitu pak klungsur salah satu kontestan kades yang kalah, mengumpulkan tim sukses: Mbah Modin selaku ketua tim sukses, Bu RT selaku bendahara, Parjo selaku sekretaris, Jhony selaku penggerak massa, serta sejumlah massa. Pada pertemuan itu Pak Klungsur tak henti jatuh pingsan karena tak kuat menahan tekanan batin atas kekalahannya. Ia sama sekali tidak rela menerima kekalahan. Betapa banyak biaya yang sudah ia keluarkan mengikuti pilkades. Ia ingin hasil pilkades yang memenangkan Somad digagalkan. Tim suksesnya diminta menyoal dan memprovokasi massa dengan isu bahwa kemenangan Somad tidak sah karena penuh kecurangan. Pemenang pilkades itu telah bekerja sama dengan perangkat desa, melanggar asas netralitas aparat pemerintahan desa, mencederai asas keadilan. Somad juga melakukan black campaign atas dirinya. Selain itu tindakan money politik, salah satunya dalam bentuk tindakan serangan fajar luar biasa besar.

            Sebenarnya Pak Klungsur melakukan hal yang sama, tetapi kalah kuat. Justru hal itu yang membuatnya sangat kecewa dan marah. Maka tim suksesnya diminta menggerakkan massa untuk memprotes kemenangan Somad, bila perlu bikin kekacauan agar hasil pilkades itu batal akibat tekanan kerusuhan massa. Mbah Modin siap mendesain gerakan massa yang diinginkan Pak Klungsur, dengan catatan biaya tercukupi. Pak Klungsur siap pertaruhan terakhir dengan seluruh hartanya akan membiaya gerakan massa tersebut. Mbah Modin lantas mengajak anggota timnya untuk menyelenggarakan rapat khusus menyusun strategi. Pertemuan diakhiri dengan makan bersama.

Pak Somad mengadakan tasyakuran atas terpilihnya menjadi kades. Dengan menampilkan artis papan atas, yaitu Koma Ramarimari, Minul Daratinggi, dan Syah Marni. Tasyakuran pun berjalan dengan lancer dan aman walau sedikit gadoh. Harapan warga miskin agar pak Somad melepaskan jabatannya sebagai kades. Tetapi semua terbuang sia-sia. Karena, semua warga desa Bangunjiwa tidak memiliki sifat keadilan dalam politik. Akhirnya ulama setempat mengusulkan agar kepala desa tetaplah pak Somad. Tetapi dengan catatan pak Somad dan warga desa Bangunjiwa bisa berubah menjadi lebih baik dalam hal apapun.

Dengan cara yang seperti itu,akhinya Desa Bangunjiwa dengan kepala desa pak Somad berjalan dengan lancer dan menjaga kelestarian alamnya, dan menjadi Desa yang sangat tentram dan aman sejahtera.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar