WAYANG KAMPUNG SEBELAH “MAWAS DIRI MENAKAR BERANI ”
Wayang
kampung sebelah memang berbeda dengan pementasan wayang-wayang yang lain. Wayang
kampong sebelah menggunakan tokoh-tokoh yang diciptakannya sendiri. Diantaranya
Kampret, Pak Lurah Somad, raja dangdut Koma Ramarimari, Minul Daratinggi,dan
Syah Marni.
Tokoh-tokoh
dalan wayag ini berbeda dengan wayang-wayang lainnya. Seperti, memiliki patahan
dipinggul dan kepala. Membuat tokoh-tokoh bergerak dan bergoyang luwes layaknya
manusia. Memang itu tergantung pada si dalang, ki jlitheng memang sangat piawai
dalam memainkan tokoh-tokoh dalam menggerakkan tangannya sehingga membuat benda
mati seakan-akan hidup.
Cerita
singkat wayang kampong sebelah yang berjudul Mawas Diri Menakar Berani. Disebuah
desa yang bernama desa Bangunjiwa, ada pemiliha kepala desa atau Lurah. Tetapi pemilihan
itu tidak ada keadilannya. Karena, semua calon kepala desa menggunakan cara
yang tidak halal( menyogok,memberi bonus).
Seperti
halnya pak Somad, akhirnya terpilih menjadi kepala desa. Sebelum pak Somad
terpilih Menjadi kepala desa, pernah menjanjikan untuk memberikan bonus pada
pengikutnya dalam kampaye. Dan setelah pengikut pak Somad mengetahuinya bahwa
pak Somad lah yang menjadi pemenang dalam pilkades, mereka langsung menghampiri
Pak Somad dan langsung menagih bonus yang pernah dijanjikannya. Pak Somad
memberi uang sebesar tiga juta rupiah untuk 3 orang. Tetapi sang ketua pengikut
memberikan uang kepada bawahannya hanya satu juta untuk 2 orang. Dan bawahanya
memberikan kepada temannya hanya dikasih seratus ribu saja. Memang di desa
Bangunjiwa tidak menanamkan keadilan.
Pada
sisi lain ada yang tidak setuju apabila yang memenangkan pilkades itu Pak
Somad,yaitu pak klungsur salah satu kontestan kades yang kalah, mengumpulkan tim sukses: Mbah Modin
selaku ketua tim sukses, Bu RT selaku bendahara, Parjo selaku sekretaris, Jhony
selaku penggerak massa, serta sejumlah massa. Pada pertemuan itu Pak Klungsur
tak henti jatuh pingsan karena tak kuat menahan tekanan batin atas
kekalahannya. Ia sama sekali tidak rela menerima kekalahan. Betapa banyak biaya
yang sudah ia keluarkan mengikuti pilkades. Ia ingin hasil pilkades yang
memenangkan Somad digagalkan. Tim suksesnya diminta menyoal dan memprovokasi
massa dengan isu bahwa kemenangan Somad tidak sah karena penuh kecurangan.
Pemenang pilkades itu telah bekerja sama dengan perangkat desa, melanggar asas
netralitas aparat pemerintahan desa, mencederai asas keadilan. Somad juga
melakukan black campaign atas dirinya. Selain itu tindakan money politik, salah
satunya dalam bentuk tindakan serangan fajar luar biasa besar.
Sebenarnya Pak Klungsur melakukan hal yang sama, tetapi kalah kuat. Justru hal itu yang membuatnya sangat kecewa dan marah. Maka tim suksesnya diminta menggerakkan massa untuk memprotes kemenangan Somad, bila perlu bikin kekacauan agar hasil pilkades itu batal akibat tekanan kerusuhan massa. Mbah Modin siap mendesain gerakan massa yang diinginkan Pak Klungsur, dengan catatan biaya tercukupi. Pak Klungsur siap pertaruhan terakhir dengan seluruh hartanya akan membiaya gerakan massa tersebut. Mbah Modin lantas mengajak anggota timnya untuk menyelenggarakan rapat khusus menyusun strategi. Pertemuan diakhiri dengan makan bersama.
Pak Somad mengadakan tasyakuran atas terpilihnya menjadi
kades. Dengan menampilkan artis papan atas, yaitu Koma Ramarimari, Minul
Daratinggi, dan Syah Marni. Tasyakuran pun berjalan dengan lancer dan aman
walau sedikit gadoh. Harapan warga miskin agar pak Somad melepaskan jabatannya
sebagai kades. Tetapi semua terbuang sia-sia. Karena, semua warga desa
Bangunjiwa tidak memiliki sifat keadilan dalam politik. Akhirnya ulama setempat
mengusulkan agar kepala desa tetaplah pak Somad. Tetapi dengan catatan pak
Somad dan warga desa Bangunjiwa bisa berubah menjadi lebih baik dalam hal
apapun.
Dengan cara yang seperti itu,akhinya Desa Bangunjiwa dengan
kepala desa pak Somad berjalan dengan lancer dan menjaga kelestarian alamnya,
dan menjadi Desa yang sangat tentram dan aman sejahtera.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar