Jumat, 23 Desember 2016

TIADA HARI TANPA BERSASTRA DAN BERKARYA


Pada tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang mengadakan acara untuk memperingati bulan bahasa yang bertemakan Upgris Bersastra dengan membedah 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus dan 1 pengarang karya Triyanto Triwikromo. Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan yang sangat melegenda. Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964 adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia. Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama. Triyanto Triwikromo selama 30 tahun dalam perjalanan sebagai pengarang.
Dalam acara Upgris Bersastra, Pak Rektor membacakan sebuah puisi yang berjudul Takziah karya Triyanto Triwikromo. Dengan diawali dengan bercerita, Pak Rektor yang malantunkan sebuah lagu dengan diiringi dengan gitar akustik. Semua Mahasiswa, Dosen dan segenap tamu undangan tersanjung dengan keakraban yang diperlihatkan oleh Pak Rektor dengan bernyanyi diiringi music gitar yang dipetik dengan tangan pak rektor sendiri. terlihat sangat asyik memainkan gitar tanpa ada nada yang melenceng. Lagu yang dikarangnya sendiri sejak muda dulu masih hangat diingatannya walaupun ada yang terlupakan pada bagian akhir lagu. Itu tidak merusak keapikan penampilan Pak Rektor. Penampilan pertama telah dimeriahkan oleh pembacaan puisi Pak Rektor. Sebelum mengawali pembacaan puisi oleh Pak Rektor, telah dibuka dengan pembacaan puisi diiring tarian-tarian yang sangat menggebrak panggung. Diiringi dengan music gamelan yang menyatu padu pada tarian. Menjadikan pembacaan puisi terlihat menjadi syahdu dan khidmat.
Puisi kedua dibacakan oleh ibu Sti Suciati yang berjudul Selir Musim Panas. Diawali dengan iringan lagu yang didampingi oleh Mahasiswa FPBS. Penampilan yang sangat haru dan menyentuh. Dalam puisi-puisi Triyanto Triwikromo memang sangat mengesankan dan dapat diambil intisari dalam isi puisi. Tak terkecuali buku-buku dan cerpennya.
Pada pembedahan buku karya Triyanto Triwikrowo dengan 3 kritikus seperti Pak Pras dan dua kawannya. Pada buku karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Bersepeda di Neraka telah dianalisis oleh Pak Pras. Pak Pras berkata “menulis itu dapat menjadi alat untuk melawan kelupaan”. Menulis memang sangat penting bagi semua orang yang masih menimba ilmu degan baik. Saya sangat setuju dengan hal yang dikatakan oleh beliau. Karena setiap manusia mempunyai sifat yang pelupa. Dengan adanya catatan kita dapat mengingat kembali dan merefresh otak kita yang telah lama kotor dengan hal-hal lain.
Seperti yang dikatakan oleh Pak Pras bahwa “ Triyanto Triwikromo pernah tidak yakin bahwa tulisannya akan dibaca oleh banyak orang, itu hal yang sangat mustahil baginya”. Disela-sela pembicaraan dengan 3 kritikus diselangi dengan musikalisasi yang ditampilkan oleh Biscuittime Band. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Biscuittime Band mengandung unsur puisi yang terkadang diambil dari bait-bait tersebut, dan lalu di padukan dengan lirik lagu yang pantas untuknya. Semua termotivasi pada puisi-puisi. Dengan tiga personil satu vokalis satu gitar dan satu bas. Mereka membawakan lagu dengan apik. Semua tersentuh dengan lagunya dan menikmatinya.
Menurut saya sendiri, dengan adanya acara seperti ini dapat menambah semangat para mahasiswa yang menghadiri acara tersebut. Akan tetapi ada saat-saat acara mulai membosankan sekali. Dengan pembicaraan yang kurang menarik, terkadang sangat menjenuhkan sekali. Satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan dimana acara Upgris Bersastra diselenggarakan yaitu gedung balairung. Akan tetapi, dengan adanya penampilan biscuittime disela-sela pembedahan buku menambah semangat mahasiswa seperti saya untuk tidak beranjak dari tempat duduknya. Sambil menikmati lagu kita juga mendapatkan pengarahan dan pengalaman dari para kritikus.
Acara Upgris bersastra ini mendapatkan kesan positif bagi para mahasiswa. Walaupun pada detik-detik terakhir dalam pembahasan satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan. Akan tetapi, respon mahasiswa tentang bersastra sangat baik. Dengan adanya acara ini mahasiswa mendapatkan motivasi untuk selalu bersastra. Jangan patah semangat untuk para generasi penerus bangsa dalam bersastra. Suatu karya sangat penting bagi suatu bangsa. Terus berkarya dan terus untuk memberi karya-karya yang berguna bagi  bangsa dan Negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar