Pada tanggal 19
Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang mengadakan acara untuk memperingati
bulan bahasa yang bertemakan Upgris
Bersastra dengan membedah 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus dan 1 pengarang karya
Triyanto Triwikromo. Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan yang sangat
melegenda. Triyanto Triwikromo lahir
di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964
adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif
Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra,
antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988)
dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan
Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival
Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia. Cerpennya
Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno
menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi
sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi
Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi
bersama. Triyanto Triwikromo selama 30 tahun dalam perjalanan sebagai
pengarang.
Dalam acara Upgris Bersastra, Pak Rektor
membacakan sebuah puisi yang berjudul Takziah karya Triyanto Triwikromo. Dengan
diawali dengan bercerita, Pak Rektor yang malantunkan sebuah lagu dengan diiringi
dengan gitar akustik. Semua Mahasiswa, Dosen dan segenap tamu undangan
tersanjung dengan keakraban yang diperlihatkan oleh Pak Rektor dengan bernyanyi
diiringi music gitar yang dipetik dengan tangan pak rektor sendiri. terlihat
sangat asyik memainkan gitar tanpa ada nada yang melenceng. Lagu yang
dikarangnya sendiri sejak muda dulu masih hangat diingatannya walaupun ada yang
terlupakan pada bagian akhir lagu. Itu tidak merusak keapikan penampilan Pak
Rektor. Penampilan pertama telah dimeriahkan oleh pembacaan puisi Pak Rektor.
Sebelum mengawali pembacaan puisi oleh Pak Rektor, telah dibuka dengan
pembacaan puisi diiring tarian-tarian yang sangat menggebrak panggung. Diiringi
dengan music gamelan yang menyatu padu pada tarian. Menjadikan pembacaan puisi terlihat
menjadi syahdu dan khidmat.
Puisi kedua dibacakan oleh ibu Sti
Suciati yang berjudul Selir Musim Panas. Diawali dengan iringan lagu yang
didampingi oleh Mahasiswa FPBS. Penampilan yang sangat haru dan menyentuh.
Dalam puisi-puisi Triyanto Triwikromo memang sangat mengesankan dan dapat
diambil intisari dalam isi puisi. Tak terkecuali buku-buku dan cerpennya.
Pada pembedahan buku karya Triyanto
Triwikrowo dengan 3 kritikus seperti Pak Pras dan dua kawannya. Pada buku karya
Triyanto Triwikromo yang berjudul Bersepeda di Neraka telah dianalisis oleh Pak
Pras. Pak Pras berkata “menulis itu dapat menjadi alat untuk melawan kelupaan”.
Menulis memang sangat penting bagi semua orang yang masih menimba ilmu degan
baik. Saya sangat setuju dengan hal yang dikatakan oleh beliau. Karena setiap
manusia mempunyai sifat yang pelupa. Dengan adanya catatan kita dapat mengingat
kembali dan merefresh otak kita yang telah lama kotor dengan hal-hal lain.
Seperti yang dikatakan oleh Pak Pras
bahwa “ Triyanto Triwikromo pernah tidak yakin bahwa tulisannya akan dibaca
oleh banyak orang, itu hal yang sangat mustahil baginya”. Disela-sela
pembicaraan dengan 3 kritikus diselangi dengan musikalisasi yang ditampilkan
oleh Biscuittime Band. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Biscuittime Band
mengandung unsur puisi yang terkadang diambil dari bait-bait tersebut, dan lalu
di padukan dengan lirik lagu yang pantas untuknya. Semua termotivasi pada
puisi-puisi. Dengan tiga personil satu vokalis satu gitar dan satu bas. Mereka
membawakan lagu dengan apik. Semua tersentuh dengan lagunya dan menikmatinya.
Menurut saya sendiri, dengan adanya
acara seperti ini dapat menambah semangat para mahasiswa yang menghadiri acara
tersebut. Akan tetapi ada saat-saat acara mulai membosankan sekali. Dengan pembicaraan
yang kurang menarik, terkadang sangat menjenuhkan sekali. Satu per satu
mahasiswa meninggalkan ruangan dimana acara Upgris Bersastra diselenggarakan
yaitu gedung balairung. Akan tetapi, dengan adanya penampilan biscuittime
disela-sela pembedahan buku menambah semangat mahasiswa seperti saya untuk
tidak beranjak dari tempat duduknya. Sambil menikmati lagu kita juga
mendapatkan pengarahan dan pengalaman dari para kritikus.
Acara Upgris bersastra ini mendapatkan
kesan positif bagi para mahasiswa. Walaupun pada detik-detik terakhir dalam
pembahasan satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan. Akan tetapi, respon
mahasiswa tentang bersastra sangat baik. Dengan adanya acara ini mahasiswa
mendapatkan motivasi untuk selalu bersastra. Jangan patah semangat untuk para
generasi penerus bangsa dalam bersastra. Suatu karya sangat penting bagi suatu
bangsa. Terus berkarya dan terus untuk memberi karya-karya yang berguna
bagi bangsa dan Negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar