Jumat, 23 Desember 2016

Ulasan Teater Gema “ Jaka Tarub ” dan Monolog Balada Sumarah


Legenda Jaka Tarub
Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa. Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub ( "pemuda dari Tarub" ). Setelah dewasa ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub adalah tokoh yang dianggap sebagai leluhur dinasti Mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa - sebagian atau seluruhnya - sejak abad ke-17 hingga sekarang. Menurut sumber masyarakat di desa Widodaren, Gerih, Ngawi, peristiwa ini terjadi di desa tersebut. Sebagai bukti masyarakat setempat percaya karena terdapat petilasan makam Jaka Tarub di desa tersebut. Rata-rata masyarakat setempat yang sudah lanjut usia tahu jalan cerita Jaka Tarub dengan 7 bidadari. Nama desa Widodaren itu dipercayai masyarakat setempat berasal dari kata widodari yang berarti dalam bahasa Indonesia adalah bidadari. Di desa ini juga terdapat sendang yang konon dulu adalah tempat para bidadari mandi dan Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Anak - anak Teater Gema telah memerankan perannya dengan sangat baik. Walaupun yang berperan menjadi Nawang wulan suaranya terkadang tidak terkontrol, sehingga suara tidak terdengan lantang. Akan tetapi hal seperti itu tidak menghalangi pementasan teater tersebut. 
Legenda Jaka Tarub memiliki banyak versi, namun versi yang standar, sebagaimana tertera pada kesultanan Mataram. Singkat awal cerita. Jaka Tarub mencuri selendang Nawangwulan. Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja.
Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa. Nawangwulan bergabung kembali bersama bidadari lain. Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung.
Nawangwulan yang marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut mengancam meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, Pada waktu-waktu tertentu ia rela datang untuk menyusui bayi Nawangsih. Dan Nawangwulan masih memenuhi haknya sebagai seorang ibu untuk bertemu dengan Nawangsih ketika ia sudah bisa pergi sendiri ke mata air untuk menemui Nawangwulan setiap malam purnama dengan syarat Nawangsih pergi ke mata air tidak ditemani oleh siapapun.
Legenda Jaka Tarub yang pentaskan oleh Teater Gema sudah sangat memuaskan penonton. Penonton sampai tertawa terbahak – bahak dalam dialog Jaka Tarub yang sangat exspresif. Apalagi dengan adanya karakter Tomo dan Topo muncul menggubrak panggung teater yang tegang menjadi lebih santai dan bercorak. Anak – anak Teater Gema dapat menjadikan Leganda Jaka Tarub lebih asri dan lebih membawa kita ke dalam masa – masa adanya Legenda Jaka Tarub. Sebenarnya saya kurang memahami mengapa ada peranan Kang Tomo dan Kang Topo, setahu saya tidak ada peranan Kang Topo dan Kang Tomo dalam Legenda Jaka Tarub yang sebenarnya. Mungkin Teater Gema ingin menjadikan Legenda Jaka Tarub yang dipentaskan menjadi berbeda dengan Legenda Jaka Tarub yang seperti biasanya. Akan tetapi dengan mengurangi kekhusukan peran Jaka Tarub dan Nawangwulan.

Monolog Balada Sumarah
Monolog Balada Sumarah yaitu menceritakan seorang perempuan TKI yang ingin mengungkapkan pembelaan terhadap tuduhannya membunun majikannya sendiri. Sumarah berasal dari Desa Karangsari. Keberadaan Sumarah di desa kelahirannya tidak diperlakukan seperti layaknya masyarakat desa tersebut. Sumarah selalu dicela dimaki dengan omongan – omongan pedas pada tetangganya sendiri. Bahkan seorang guru madrasah Sumarah pun ikut mencelanya walaupun dengan halus. Hal itu berawal dari bapak sumarah yang ditudung sebagai seorang PKI. Padahal berita yang diketahui Sumarah dari Simbahnya Bapak itu orangnya lugu, tidak mengerti hal – hal seperti itu. Supir andhong adalah pekerjaan bapak sumarah, yang bersedia mengantar siapa saja yang ingin diantar olehnya. Bapak sumarah sering mengantarkan Pak Lurah ke sebuah tempat. Lalu ada teman Bapak datang ke rumah untuk menanyakan bapak dimana, dan tiba – tiba seorang tentara menciduk bapak entah kemana. Warga mengatakan bahwa Bapak Sumarah adalah seorang PKI. Semenjak itu Sumarah selalu dicaci dan dicela dengan perkataan yang kejam dan menusuk hati Sumarah. Sampai – sampai Sumarah tidak dapat mengambil ijazahnya sendiri.  Dengan tertekannya Sumarah memutuskan untuk menjadi seorang TKI pergi jauh dari desa kelahirannya yang menyebabkan Sumarah tertekan. Akhirnya Sumarah terbang ke Arab Saudi, di Arab Saudi ternyata Sumarah pun kandas. Gajinya setahun tidak didapatkannya. Semua haknya dirampas oleh majikannya. Kehormatannya pun dirampas pula. Sungguh kejam dunia ini.
Monolog Balada Sumarah yang dibacakan oleh salah satu mahasiswi Universitas PGRI Semarang  ini sangat bagus dan sangat exspresif. Patut dijadikan pelarajan untuk kita semua. Tidak salah monolog ini terpilih menjadi juara dan kini sampai ke jenjang yang lebih tinggi yaitu tingkat provinsi.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar